Catatan Kuliah Analisis Kebijakan Pendidikan Islam
1. Islamisasi Ilmu dan Pendidikan
-
Model Timur Tengah: seperti Ibnu Sina, pendidikan dimulai dari menghafal Al-Qur’an sebelum masuk bidang spesialisasi. Dialog ilmu dilakukan dengan Al-Qur’an.
-
Contoh: Jablul (ahli kimia, hafizh Qur’an) menemukan rumus kimia berdasarkan Al-Qur’an.
-
Pandangan Fazlur Rahman: yang perlu diislamisasi bukan ilmunya, tetapi orangnya.
-
Perumpamaan Rasulullah: mendidik seperti bertani.
-
Nativisme: pupuk.
-
Empirisme: tanah subur.
-
Tetapi hasil tetap tergantung Allah ﷻ (QS. Al-Wāqi‘ah: 64, “A-antum tazra‘ūnahu...”).
-
-
Surat Luqman: mendidik anak dengan menanamkan syukur, pertama kepada Allah lalu kepada orang tua.
2. Tokoh dan Pendekatan dalam Pendidikan Islam
-
Filosofis: Hasan Asyyaibani.
-
Historis: Ahmad Salabi (Tārīkh al-Islām).
-
Sosiologis: Azyumardi Azra.
-
Teknis-aplikatif: Mahmud Yunus (Durūs al-Lughah al-‘Arabiyyah, 4 jilid).
-
Muridnya: Ahmad Zarkasyi (pendiri Gontor).
-
-
Benjamin S. Bloom: semua orang bisa belajar, tetapi dengan kemampuan berbeda.
-
Ilmu pendidikan: bagian dari ilmu sosial.
3. Pendidikan di Indonesia
-
Quraish Shihab: pendidikan di Indonesia “masih memakai baju orang lain”.
-
QS. Ali Imran: 159: prinsip musyawarah dan kelembutan dalam mendidik.
-
Reward and punishment: sebaiknya tidak dominan; lebih baik apresiasi.
-
Rukun pendidikan bernuansa ekonomi: ada 13 unsur.
-
Pendidikan Nasional:
-
Orde Lama: nasionalis, komunis, Islam.
-
Orde Baru:
-
16 tahun pertama, Islam terpinggirkan.
-
16 tahun berikutnya mulai harmonis (“Islam yes, partai Islam no”).
-
Lahir kebijakan penting: MAK (Munawir Sjadzali), MA PK (Tarmidzi Tahir).
-
-
-
PP No. 61 Tahun 2010: BLU (Badan Layanan Umum) di pendidikan.
-
Kurikulum:
-
1978 → fokus kognitif, agama belum masuk.
-
1984 → CBSA.
-
1994 → CBSA berkembang, sekolah umum berciri agama.
-
2004 → KBK, visi UNESCO (learning to do, to live, dll.).
-
4. Problematika Pendidikan Nasional
-
Penyebab kualitas bangsa rendah:
-
Pendidikan belum merata.
-
Belum terwujud masyarakat belajar.
-
Pendidikan agama belum berhasil.
-
Belum terlaksana pendidikan seumur hidup.
-
-
Standar pendidikan: isi, proses, pendidik & tenaga kependidikan, kompetensi lulusan, sarana prasarana, pengelolaan, pembiayaan.
-
Kritik: spirit nasionalisme pendidikan sudah berkurang dibanding era Ki Hajar Dewantara.
-
Filsafat burung unta: cenderung menghindar dari masalah.
-
Butuh inovasi: kampus harus menjadi entrepreneur university dan research university.
5. Penulisan Ilmiah
-
Ciri tulisan ilmiah:
-
Didukung referensi memadai dan sesuai bidang.
-
Ada analisis mendalam sebelum kesimpulan.
-
Metodologi jelas (ibarat resep kue: tujuan, bahan, cara).
-
Bahasa sederhana, kalimat aktif/pasif sesuai kebutuhan.
-
Ketelitian → menumbuhkan kepercayaan.
-
-
Proses studi:
-
S1 → belajar menulis.
-
S2 → belajar meneliti.
-
S3 → belajar menganalisis.
-
6. Pesantren dalam Pendidikan Islam
-
Fungsi pesantren:
-
Mencetak ulama.
-
Memelihara tradisi.
-
Membumikan ajaran Islam (transfer knowledge).
-
-
Model pesantren:
-
Salafiyah murni.
-
Plus madrasah diniyah.
-
Plus madrasah umum.
-
Plus kejuruan.
-
Plus ma’had ‘ali.
-
-
Karakter santri: kuat dalam ubudiyah.
-
Pesantren modern: sudah berkembang di kota (misalnya Asshidiqiyah).
-
Akreditasi: jangan terlalu mengintervensi proses tradisi pesantren.
7. Religiusitas di Indonesia
-
Fenomena baru:
-
“Religious values” (agama sebagai pegangan hidup) makin diminati.
-
Tasawuf kota (Aa Gym, Arifin Ilham, Haryono).
-
Kelompok ideologis: MMI, Hizbut Tahrir, Aswaja, P3M, JIL.
-
-
Madrasah Aliyah: kurang responsif terhadap tren dakwah modern, sehingga ditinggalkan.
-
Peran kiai: berkurang dibanding masa lalu.
-
Kesimpulan: umat beragama menghadapi tantangan besar dan harus berinovasi.
8. Konsep Analisis dan Kebijakan
-
Analisis: bagian dari kerja ilmiah, termasuk ranah kognitif (Bloom).
-
Membutuhkan pendekatan: statistik, teoritis, ideologi, maupun verstehen.
-
-
Kebijakan (wisdom / hikmah):
-
Terjemahan dari hikmah (Arab).
-
Ibn Miskawaih: hikmah dicapai dengan akal yang adil, konsultasi hati nurani, dan bimbingan wahyu.
-
Hikmah berada di “gray area”: bukan wahyu murni, bukan sains murni.
-
Dari hikmah lahir ilmu: epistemologi, ontologi, dan aksiologi.
-
9. Catatan Inspiratif
-
Sa‘ad al-Anshari: tangannya dijamin tidak disentuh api neraka karena alasan syar‘i saat tidak ikut perang.
-
Pergeseran agen dakwah: dari tarekat di masa lalu menjadi berbagai media dan organisasi di masa kini.
Komentar
Posting Komentar