Catatan Kuliah : Metodologi Pembelajaran

 

Metodologi Pembelajaran

DR. Nusa Putra, S.Fil, M.Pd
Minggu, 10 April 2011

1. Landasan Filosofis

  • Semua metodologi pembelajaran berangkat dari filsafat.

  • Alur perkembangannya: Filsafat → Empirisme → Rasionalisme → Humanisme → Teori → Behaviorisme → Kognitivisme → Konstruktivisme → Multidimensionalisme → Metodologi Pembelajaran.

  • Tidak ada satu pernyataan pun yang lepas dari dasar filosofi.

2. Riset dan Tokoh Inspiratif

  • Penelitian terkait: J. Ledoux, Antonio Damasio, H. Gardner.

  • Tokoh: Ibnu Rusyd (dihargai di Barat, dikritik di dunia Islam), Bertrand Russel (filsuf peraih Nobel), Bryan Magee.

3. Keterlibatan Emosi dalam Pembelajaran

  • Agar pembelajaran berhasil, guru harus melibatkan emosi.

  • Cara melatih otak dan emosi: mandi dengan mata tertutup, membaca terbalik, membaca keras-keras.

  • Al-Qur’an menggunakan gaya puisi dan pengulangan, sehingga menyentuh emosi.

  • Tanpa emosi, manusia tidak bisa mengambil keputusan.

4. Metode Aktivasi Otak

  • Gunakan warna, gambar, dan aktivitas motorik.

  • Gambar lebih sulit dilupakan dibanding teks (contoh: dampak negatif pornografi).

  • Rumi mengajarkan zikir dengan gerak fisik, selaras dengan prinsip otak butuh aktivasi.

  • Shalat malam (qiyamullail) memotivasi otak.

  • Olahraga, musik, dan aktivitas seni membantu perkembangan prestasi anak.

  • Di Jepang, wajib ikut ekskul fisik dan seni.

  • Senam otak modern banyak terinspirasi dari zikir Rumi.

5. Kesehatan, Tubuh, dan Otak

  • Makanan berlemak mengganggu konsentrasi.

  • Kacang kedelai membantu kesehatan wajah.

  • Hubungan seksual rutin (3x seminggu) menyehatkan tubuh.

  • Ibadah dalam Islam banyak melibatkan gerakan tubuh, sehingga selaras dengan kesehatan jasmani.


Strategi Pembelajaran (24 April 2011)

STAD (Student Teams Achievement Division)

1. Prinsip Umum

  • Tujuan strategi adalah mengaktifkan murid.

  • Pembelajaran harus memberi otonomi pada kelompok, bukan dominasi guru.

  • Model hanyalah dasar, pengembangan melalui pengalaman empiris.

2. Kritik terhadap Sistem

  • Guru cenderung terpaku pada metode ceramah karena terjebak sistem ujian nasional.

  • Materi bisa didapat di internet, yang lebih penting adalah proses belajar.

3. Model-model Pembelajaran

  • STAD, CTL, Service Learning, Cooperative Learning, Quantum Teaching, Active Learning, Accelerated Learning, Discovery Learning, Integrated Learning, E-Learning, CIRC, Brain-Based Teaching, Fun Learning, dll.

  • Tidak semua model cocok di semua situasi.

4. Dinamika Kelompok

  • Kelompok kecil (3–4 orang) lebih efektif.

  • Jangan terlalu lama dalam kelompok yang sama, agar tidak jenuh atau ada dominasi.

  • Tujuan utama kerja kelompok: membangun solidaritas, komitmen, akhlak, dan ketekunan, bukan sekadar menyelesaikan materi.

  • Hindari ketua kelompok yang berakhlak buruk karena akan ditiru.

5. Tantangan Pendidikan Pesantren

  • Santri rajin di pesantren, tetapi setelah pulang sering berubah.

  • Banyak lulusan kampus umum justru lebih “terislamisasi” dibanding santri.

  • Perlu model pembelajaran baru yang mampu menjawab tantangan ini.


Fun Learning (5 Juni 2011)

1. Prinsip Dasar

  • Semua penelitian tentang fun learning terkait otak.

  • Kata kunci: keterlibatan siswa.

  • Suasana dibuat tidak formal dan menyenangkan.

  • Guru dan murid sejajar, sama-sama aktif.

2. Unsur Fun Learning

  • Harus ada tantangan (tidak terlalu mudah, tidak terlalu sulit).

  • Harus menghargai setiap individu.

  • Keberhasilan bergantung pada konsep diri dan minat anak.

  • Mengaitkan pelajaran dengan seni atau kehidupan nyata (misal matematika dengan seni).

3. Peran Guru

  • Guru harus jadi entertainer, motivator, sekaligus provokator.

  • Sikap guru memengaruhi siswa (kalau guru senang → murid ikut senang).

  • Guru harus jadi teladan (misalnya jangan terlambat masuk kelas).

  • Mahasiswa sebaiknya ikut membuat soal dan menjawabnya, bukan hanya pasif.

4. Keberagaman Metodologi

  • Tidak ada satu metodologi pembelajaran yang cocok untuk semua siswa.

  • Harus ada variasi dan pengolahan oleh guru.

  • Pendidikan andragogi (dewasa) punya pendekatan berbeda dari pedagogi.


📌 Catatan Penting:

  • Keberhasilan kelas bukan hanya di ruang kelas, tetapi juga untuk kehidupan selanjutnya.

  • Guru harus menunjukkan bahwa dirinya juga terus belajar.

  • “Aku panglimamu, dan aku juga ayahmu” → peran ganda guru sebagai pemimpin sekaligus pembimbing.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ILMU KALAM (THEOLOGY)

CATATAN KULIAH KAPITA SELEKTA PENDIDIKAN ISLAM

PEMAHAMAN KEAGAMAAN GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DKI JAKARTA