Catatan Kuliah : Psikologi Pendidikan Islam
Psikologi Pendidikan Islam
Mulyadhi Kartanegara
1. Profil Singkat dan Karya-Karya
-
Riwayat Akademik
-
Gelar doktor ibarat SIM bagi sopir: awal untuk bisa berjalan sendiri tanpa bimbingan.
-
-
Karya ilmiah dan buku penting:
-
1986 – Renungan Mistik Jalaluddin Rumi (skripsi).
-
Sejarah Filsafat Islam.
-
1995 – Mukhtashar Siwan al-Hikmah (disertasi).
-
2000 – Mozaik Khazanah Islam.
-
2002 – The Venture of Islam.
-
Menembus Batas Waktu.
-
2003 – Mengubah Tirai Kejahilan.
-
2004 – Jalaluddin Rumi: Guru Sufi, Penyair Agung.
-
2005 – Integrasi Ilmu.
-
Seni Mengukir Kata: Kiat Menulis Aktif dan Kreatif.
-
The Best Chicken Soup of the Philosophy.
-
2006 – Gerbang Kearifan (Pengantar Filsafat Islam).
-
2006 – Menyelami Lubuk Tasawuf.
-
2007 – Mengislamkan Nalar.
-
2007 – Nalar Religius.
-
Islam, Bagi yang Pengen Tahu.
-
Rasa’il Ikhwan al-Shafa.
-
2009 – Sains dan Matematika dalam Islam.
-
2010 – Etika, Filsafat Islam dan Tasawuf.
-
2011 – Pengantar Studi Islam.
-
2012 – Pengantar Psikologi Islam.
-
2. Pengantar: Sekularisasi Sains Modern
-
Definisi: penyingkiran hal-hal transenden (gaib, religius) dari arena sains.
-
Tiga fase perkembangan pemikiran manusia:
-
Fase religius (agama).
-
Fase metafisik (akal).
-
Fase empiris (sains).
-
-
Contoh reduksi ilmu:
-
Materi → astrofisika (Laplace).
-
Kehidupan → biologi (Darwin).
-
Pikiran → psikologi (Freud).
-
Budaya → sosiologi (Durkheim).
-
Konsekuensi sekularisasi:
-
Tuhan dianggap ilusi (Freud).
-
Agama dipandang sebagai produk masyarakat (Durkheim).
-
Alam tidak lagi dipahami sebagai tanda-tanda Allah, melainkan fenomena netral.
3. Islam dan Pandangan Alternatif
-
Allah dikenal melalui dua jenis ayat:
-
Ayat qauliyah (wahyu).
-
Ayat kauniyah (alam).
-
-
Pandangan sufi:
-
Allah sebagai kekasih, Qur’an sebagai surat cinta.
-
Jalaluddin Rumi: Qur’an ibarat wanita bercadar, hanya membuka cadarnya kepada kekasihnya.
-
4. Psikologi Barat dan Kritiknya
-
Freud: membagi kepribadian → id, ego, super-ego.
-
Darwin: seleksi alam sebagai motor kehidupan.
-
Durkheim: agama hanyalah refleksi masyarakat.
-
Kritik Islam: semua teori ini mengabaikan aspek ruhani manusia.
5. Psikologi Islam dan Jiwa
-
Struktur kejiwaan dalam Islam:
-
Hati (ṣadr, qalb, fu’ād, lubb).
-
Akal.
-
Ruh.
-
Nafs.
-
-
Jenis jiwa:
-
Jiwa mineral.
-
Jiwa nabati (tumbuhan).
-
Jiwa hewani.
-
Jiwa nafsani.
-
Jiwa insani (manusia).
-
Jiwa sirr.
-
Sirr al-asrar.
-
-
Tingkatan nafs (sufi):
-
Ammārah (mengajak berbuat dosa).
-
Lawwāmah (penyesalan).
-
Mulhamah (diilhami untuk meninggalkan dosa).
-
Muṭma’innah (tenang).
-
Rāḍiyah (ridha).
-
Marḍiyyah (diridhai).
-
Nāfs al-maḥḍah (nafsu murni, fana).
-
6. Psikologi Islam: Tiga Mazhab
-
Religius (tekstual, berbasis Al-Qur’an dan Sunnah).
-
Tokoh: Ibn Hazm, Ibn Taymiyyah, Ibn Qayyim.
-
Menekankan keabadian jiwa dan pertanggungjawaban akhirat.
-
-
Sufistik.
-
Fokus pada transformasi jiwa melalui mujahadah, maqamat, dan mahabbah.
-
Tujuan: taqarrub ilallah, mencapai fana’ dan cinta Ilahi.
-
-
Filosofis.
-
Tokoh: Ibn Sina, al-Farabi, Budd al-‘Ārif.
-
Membahas jiwa secara rasional, immaterialitas, keabadian, dan relasinya dengan tubuh.
-
7. Kontribusi Tokoh
-
Ibn Hazm:
-
Jiwa dan ruh = sama.
-
Motif manusia: menghindar dari kecemasan, hanya mungkin dengan bersandar pada Allah.
-
-
Ibn Taymiyyah:
-
Mengkritik tasawuf berlebihan.
-
Jiwa bukan fisik, tetapi juga bukan esensi murni.
-
-
Ibn Qayyim:
-
Jiwa seperti minyak dalam zaitun, mengalir dalam tubuh.
-
Menekankan tiga tingkatan nafsu.
-
8. Psikologi Sufistik
-
Rumi:
-
Akal hanya sampai gerbang Tuhan, hati yang membawa masuk.
-
Hati ibarat Ka’bah, harus bersih agar layak diziarahi.
-
-
Al-Ghazali:
-
Hati = raja.
-
Akal = perdana menteri.
-
Nafsu = kuda.
-
Tubuh = kereta.
→ Nafsu jangan dibunuh, tapi dikelola.
-
9. Psikologi Pendidikan dan Transformasi Jiwa
-
Pendidikan Islam harus diarahkan:
-
Membersihkan jiwa (tazkiyatun-nafs).
-
Membentuk karakter (akhlak).
-
Menanamkan cinta sebagai motor penggerak belajar.
-
-
Kunci menulis dan belajar: cinta, yang melahirkan inspirasi.
-
Prinsip dasar tasawuf: cinta Allah dan taqarrub kepada-Nya.
10. Kesimpulan
-
Psikologi Islam berbeda dengan Barat:
-
Barat sekuler, reduksionis, hanya melihat aspek biologis atau sosial.
-
Islam melihat manusia secara menyeluruh: jasad, akal, hati, nafs, ruh.
-
-
Tiga mazhab psikologi Islam (religius, sufistik, filosofis) adalah warisan kaya yang harus digali untuk pendidikan dan pembentukan manusia berakhlak.
Psikologi Islam dan Filsafat Jiwa
Catatan Kuliah – 19 Februari 2012 & 18 Maret 2012
1. Seni Menepis Kesedihan
-
Al-Kindi menulis al-Ḥīlah li Daf‘i al-Aḥzān (Seni Menepis Kesedihan).
-
Kesedihan muncul karena dua hal:
-
Hilangnya sesuatu yang dicintai.
-
Luputnya sesuatu yang didambakan.
-
2. Takdir dan Kebebasan
-
Rumi: takdir bukan penjara, melainkan ruang kebebasan memilih.
-
Manusia bisa jatuh ke asfala sāfilīn (serendah-rendahnya) atau naik ke aḥsani taqwīm (sebaik-baiknya bentuk).
-
-
Allah memberi kebebasan agar manusia dapat mengembangkan potensinya: gerak, mental, dan imajinasi.
-
“Innahu kāna ẓalūman jahūlā” – manusia diberi pilihan, berbeda dengan benda mati yang tidak bisa memilih.
3. Fiqh dan Perkembangannya
-
Fiqh lahir sebagai reaksi orang-orang shalih terhadap penguasa.
-
Sejarah mencatat ±100 tahun perjuangan para fuqahā’ untuk menetapkan hukum, siapa pun penguasanya.
4. Emansipasi dan Filsafat
-
Ibnu Syāti’: emansipasi wanita berarti kebebasan wanita untuk belajar.
-
Filosof sering dianggap aneh pada zamannya, namun mereka bijak.
-
Orang Iran terbiasa sejak kecil menghafal kalimat-kalimat bijak para filosof.
-
Buku rujukan penting: The Venture of Islam (menurut Azyumardi Azra, “buku abad ini”).
5. Konsep Jiwa dalam Filsafat Islam
a. Esensi dan Substansi
-
Esensi (Arab: māhiyyah) berbeda dengan aksiden (‘araḍ).
-
Contoh: warna meja = aksiden; kaki meja = substansi.
b. Analogi Jiwa
-
Jiwa = kereta.
-
Nafsu = kuda.
-
Akal = kusir yang harus mengendalikan.
c. Jiwa dan Akal
-
Jiwa bersifat immaterial, bisa eksis tanpa tubuh.
-
Tubuh hanya menerima satu bentuk pada satu waktu, sedangkan jiwa bisa menerima banyak ide sekaligus → bukti jiwa bukan fisik.
-
Jiwa tumbuhan: daya nutrisi, tumbuh, reproduksi.
-
Jiwa hewani: sensasi, gerak, penginderaan.
-
Jiwa insani (nutqiyyah): akal praktis dan teoritis.
6. Indera Manusia
a. Indera Lahir
-
Penglihatan → lahir industri warna/tekstil.
-
Pendengaran → lahir musik.
-
Penciuman → minyak wangi.
-
Pengecapan → kuliner.
-
Perabaan → kasur, bantal.
b. Indera Batin
-
Fantasia (al-ḥiss al-musytarak): menangkap bentuk.
-
Khayāl (representasi): melestarikan bentuk yang ditangkap.
-
Mutakhayyilah (imajinasi): mengubah ide abstrak ke konkret.
-
Wahm (estimasi): menilai bahaya atau manfaat.
-
Ḥāfiẓah (memori): menyimpan pengalaman.
7. Nafs dan Akhlak
-
Syahwat (shahwiyyah): melestarikan individu dan keturunan.
-
Ghadabiyyah: daya menjauh dari bahaya.
-
Nutqiyyah (akal): daya berpikir.
Jika akal mengendalikan syahwat dan ghadab:
-
Dari syahwat → muncul ‘iffah (menjaga diri).
-
Dari ghadab → muncul syajā‘ah (keberanian).
-
Dari akal → muncul ḥikmah (kebijaksanaan).
-
Jika ketiganya seimbang → muncul ‘adālah (keadilan).
8. Teori Ilmu Pengetahuan
-
Pengetahuan lahir dari pertanyaan (hal huwa?, ma huwa?, aina?, matā?, kaifa?, kam?, man huwa?, ayyu?, limādzā?).
-
Akal teoritis: memahami makna dari bentuk.
-
Barat hanya memahami bentuk lahir, Islam menekankan makna batin.
9. Keabadian Jiwa (18 Maret 2012)
-
Ibn Sina (Ahwāl al-Nafs):
-
Jiwa mengatur tubuh, tidak hancur bersama jasad.
-
Jiwa abadi, survive setelah kematian, masih bisa berpikir.
-
-
Jiwa dikumpulkan di alam barzakh.
-
Jiwa baik → potensial menjadi malaikat.
-
Jiwa buruk → menjadi setan.
-
Rumi: kematian bukan akhir, tapi awal kehidupan ruhani.
-
Dunia hanyalah tiruan akhirat.
10. Psikoterapi dalam Islam
a. Psikoterapi Akhlak
-
Akhlak = al-ṭibb al-rūḥānī (kedokteran rohani).
-
Miskawaih:
-
Pilih teman baik.
-
Berolah pikir (seperti olahraga fisik).
-
Konsisten dengan rencana.
-
Jangan membangunkan “singa” (syahwat & ghadab).
-
Kenali kelemahan diri.
-
b. Psikoterapi dengan Dzikir
-
“Ala bi dhikrillāh taṭma’innul qulūb” → dzikir sebagai ketenangan sekaligus obat fisik dan mental.
c. Psikoterapi Sufistik
-
Tujuan: taqarrub ilallāh melalui tazkiyatun-nafs.
-
Menghapus sifat buruk (hubbud-dunyā, riya, takabbur).
-
Level syukur dan sabar → kunci kebahagiaan.
-
Agama bukan beban, melainkan solusi kesehatan mental.
11. Etika dan Kebahagiaan
-
Akhlak buruk → sumber penyakit.
-
Akhlak baik → sumber kebahagiaan dan kesehatan.
-
Zuhud: ikhlas menerima kehilangan.
-
Marah → obatnya memaafkan.
-
Tujuan etika: keseimbangan antara ekstrem (bakhil vs boros, pengecut vs sembrono).
12. Penutup
-
Manusia = mikrokosmos (alam kecil).
-
Dengan memahami manusia, kita memahami alam.
-
Ilmu harus mengubah perilaku; jika tidak, ia gagal.
-
Agama dan tasawuf adalah sumber psikoterapi rohani, menuju jiwa yang tenang dan dekat dengan Allah.
Komentar
Posting Komentar