Prinsip-Prinsip Ajaran Islam

 


Prinsip-prinsip dasar ajaran Islam yang menjadi landasan berpikir, bersikap, dan bertindak bagi umat Islam. Secara umum, dijelaskan bahwa Islam hadir untuk mengubah cara berpikir manusia dari yang bersifat materialistis dan hedonistik menuju cara pandang transendental dan kemanusiaan.


🟢 1. Islam Mengubah Pola Pikir Masyarakat

Sebelum Islam datang, masyarakat Arab sangat menghormati hal-hal duniawi seperti:

  • Harta

  • Kekuasaan (takhta)

  • Keturunan (kasta)

Setelah Islam datang, Nabi Muhammad ﷺ mengubah orientasi mereka menjadi:

  • Menjunjung akhlak mulia

  • Menjaga kemanusiaan dan keadilan

  • Mengembangkan persaudaraan dan tolong-menolong

  • Menanamkan keikhlasan dan kejujuran

Hal ini menunjukkan bahwa tujuan Islam adalah membentuk masyarakat yang berakhlak, adil, dan beradab.


🟣 2. Islam Selalu Diperbarui (Tajdīd)

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ اللَّهَ سَيَبْعَثُ لِهَذِهِ الْأُمَّةِ عَلَى رَأْسِ كُلِّ مِائَةِ سَنَةٍ مَنْ يُجَدِّدُ لَهَا دِينَهَا
"Sesungguhnya Allah akan mengutus untuk umat ini pada setiap penghujung seratus tahun seseorang yang akan memperbarui agamanya."
(HR. Abu Dawud)

Artinya, setiap masa memiliki pembaharu (mujaddid) yang menghidupkan kembali semangat Islam sesuai kebutuhan zaman, tanpa mengubah pokok ajarannya.


🟢 3. Islam Fleksibel dan Kontekstual

Menurut ulama seperti Mahmud Syaltut dan Syaikh Zaky al-Yamani, Islam bersifat:

  • Shāliḥ li kulli zamān wa makān — sesuai untuk setiap waktu dan tempat.

  • Ajarannya seperti benih unggul yang tumbuh sesuai kondisi tanah, iklim, dan perawatan.

Artinya, Islam bisa menyesuaikan diri dengan perkembangan masyarakat, selama tidak menyalahi hal-hal pokok (aqidah, ibadah, dan akhlak).


🟣 4. Islam Tidak Menyulitkan (لا تُعَسِّر على الناس)

Prinsip penting dalam Islam adalah tidak mempersulit umat manusia.
Contohnya:

  • Orang sakit boleh shalat sambil duduk, berbaring, atau dengan isyarat.

  • Musafir (bepergian jauh) boleh menjama’ dan mengqashar shalat.

  • Orang sakit, hamil, atau menyusui boleh tidak berpuasa dan menggantinya di waktu lain.

  • Tidak ada air → boleh tayamum.

  • Dalam keadaan terpaksa → boleh makan yang haram untuk menyelamatkan nyawa.

Hal ini ditegaskan dalam firman Allah:

يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ
“Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesulitan bagimu.”
(QS. al-Baqarah: 185)

Tujuannya agar Islam menjadi rahmat bagi manusia, bukan beban yang memberatkan.


🟢 5. Islam Selaras dengan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi

Islam sangat menekankan pencarian ilmu. Bukti utamanya adalah ayat pertama yang turun:

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ ...
“Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan...”
(QS. al-‘Alaq: 1–5)

Ayat ini menandakan bahwa:

  • Islam memerintahkan belajar dan meneliti.

  • Semua amal harus disertai ilmu, sebab amal tanpa ilmu tidak diterima.

  • Menuntut ilmu wajib bagi setiap Muslim (laki-laki dan perempuan).

Ilmu dalam Islam bersumber dari Allah dan digunakan untuk kemaslahatan manusia, bukan untuk kerusakan. Karena itu, kemajuan teknologi dan sains harus selalu berorientasi kepada nilai-nilai ketuhanan.


🟣 6. Islam Mendorong Penelitian dan Tabayyun (Klarifikasi)

Islam juga mengajarkan agar setiap keputusan dan keyakinan harus berdasarkan penelitian dan bukti.
Ini disebut prinsip:

موقف على الحاصل التبين
(Bersikap berdasarkan hasil penelitian dan kejelasan).

Artinya, dalam Islam tidak boleh mengambil keputusan tanpa data, bukti, dan kehati-hatian.


7. Prinsip Ilmiah: Tidak Berdasarkan Dugaan

Islam menolak tindakan atau keyakinan yang hanya didasarkan pada dugaan, ikut-ikutan, atau emosi tanpa ilmu.
🔹 Dalil: QS. al-Isra’ (17): 36

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya…”

📖 Maknanya:
Islam menuntut setiap perbuatan dan keputusan didasarkan pada ilmu, penelitian, dan bukti yang meyakinkan. Karena pendengaran, penglihatan, dan hati semuanya akan dimintai pertanggungjawaban.

💡 Contoh:

  • Islam mendorong penelitian terhadap ciptaan Allah (unta, langit, gunung, bumi).

  • Penelitian ini melahirkan inovasi teknologi seperti pesawat, kapal, pendingin ruangan, satelit, dan sebagainya.

  • Jadi, penelitian bukan hanya urusan dunia, tapi juga jalan untuk meningkatkan iman dan rasa syukur kepada Allah.


8. Prinsip Berorientasi pada Masa Depan

Islam mengajarkan agar umatnya berpikir maju, memperbaiki diri dari hari ke hari.
🔹 Dalil: QS. al-Hasyr (59): 18

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok…”

🔹 Hadis:

“Barangsiapa amalnya hari ini lebih baik dari kemarin, ia beruntung…” (HR. Muslim)

📖 Maknanya:

  • Setiap Muslim harus terus memperbaiki kualitas hidup, ilmu, amal, dan produktivitasnya.

  • Tidak boleh puas dengan masa lalu, apalagi terjebak dalam nostalgia atau penyesalan.

  • Prinsip ini membuat umat Islam kreatif, inovatif, dan progresif.


9. Prinsip Kesederajatan (Al-Musāwah)

Islam memandang semua manusia setara di hadapan Allah, tanpa membeda-bedakan ras, suku, warna kulit, atau status sosial.

🔹 Dalil: QS. al-Hujurāt (49): 13

“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.”

🔹 Hadis:

“Tidak ada kelebihan orang Arab atas non-Arab, atau orang putih atas orang hitam, kecuali dengan takwa.” (HR. Muslim)

📖 Maknanya:

  • Islam menolak diskriminasi, penjajahan, dan kesombongan sosial.

  • Ukuran kemuliaan hanyalah iman dan takwa.

  • Kesederajatan ini mendorong lahirnya masyarakat yang adil, saling menghormati, dan damai.


10. Prinsip Keadilan

Keadilan berarti memberikan sesuatu secara proporsional dan seimbang—hak diberikan sesuai peran, kemampuan, dan prestasi.

🔹 Dalil: QS. an-Nahl (16): 90

“Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil dan berbuat kebajikan…”

📖 Maknanya:

  • Keadilan adalah pondasi kehidupan sosial dan moral.

  • Tanpa keadilan, timbul ketidakpuasan, kekacauan, dan kezaliman.

  • Allah sendiri bersifat ‘Adl (Maha Adil).

  • Keadilan menjadi penyeimbang antara sifat kasih dan sifat tegas Allah.

💡 Kesimpulan:
Keadilan wajib diterapkan di semua bidang—politik, hukum, ekonomi, dan keluarga.


11. Prinsip Musyawarah (Syūrā)

Musyawarah adalah cara Islam dalam mengambil keputusan dengan melibatkan pendapat banyak pihak.

🔹 Dalil: QS. Ali ‘Imrān (3): 159

“…Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu…”

📖 Maknanya:

  • Islam menolak sikap diktator dan otoriter.

  • Keputusan bersama menghindarkan perpecahan dan menumbuhkan tanggung jawab kolektif.

  • Nabi SAW selalu bermusyawarah, bahkan setelah kekalahan di Perang Uhud.


12. Prinsip Persaudaraan (Ukhuwah)

Islam memandang seluruh manusia bersaudara, terutama sesama Muslim.

🔹 Dalil: QS. al-Māidah (5): 2

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebaikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan.”

📖 Maknanya:

  • Ukhuwah melahirkan sikap gotong royong, saling membantu, dan saling menghormati.

  • Dengan ukhuwah, tercipta masyarakat yang harmonis, kuat, dan penuh kasih sayang.


13. Prinsip Keterbukaan (At-Taftūh)

Keterbukaan berarti menerima ide, ilmu, dan informasi dari mana pun, selama sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah.

📖 Maknanya:

  • Tidak fanatik buta terhadap pendapat sendiri.

  • Bersedia belajar dari orang lain, tetapi tetap kritis dan selektif.

  • Inilah kunci kemajuan peradaban Islam di masa klasik — para ulama terbuka pada ilmu dari Yunani, Persia, dan India, lalu mengembangkannya dalam cahaya wahyu.


🕌 1. Makna Prinsip-Prinsip Ajaran Islam

Prinsip-prinsip ajaran Islam adalah nilai-nilai dasar yang menjadi pedoman dan arah hidup seorang Muslim.
Prinsip ini membimbing umat Islam dalam berpikir, bersikap, dan bertindak agar:

  • Hidupnya memiliki arah dan tujuan yang benar,

  • Aktivitasnya memiliki makna dan manfaat,

  • Serta memiliki karakter yang berbeda dari orang yang tidak berpegang pada prinsip Islam.

📌 Dengan kata lain:
Prinsip-prinsip ajaran Islam = landasan utama agar umat Islam hidup sesuai dengan kehendak Allah, berakhlak mulia, dan membawa rahmat bagi seluruh alam.


🌏 2. Prinsip Keterbukaan (Iftitāhiyyah) — Bagian Penting Bab Ini

Bagian yang kamu kutip di awal menjelaskan pentingnya prinsip keterbukaan dalam Islam.
Artinya, Islam tidak menutup diri dari pengetahuan, kebudayaan, atau peradaban mana pun — selama tidak bertentangan dengan nilai keimanan dan akhlak.

🔹 Contoh sejarah:

Pada masa Khalifah Harun ar-Rasyid dan al-Ma’mun (Abbasiyah, Baghdad), banyak karya filsafat, sains, dan kedokteran dari Yunani, India, Persia, dan Cina diterjemahkan ke dalam bahasa Arab.
Dari keterbukaan itu lahirlah peradaban Islam yang maju dan ilmiah.

📖 Islam tidak menolak ilmu dari luar, tetapi menyaringnya secara kritis dan selektif:

  • Yang baik dari Barat → disiplin, kerja keras, menghargai waktu, perencanaan.

  • Yang buruk dari Barat → materialisme, hedonisme, sekularisme, dan hidup tanpa Tuhan.

  • Yang baik dari Timur → akhlak, spiritualitas, kesantunan.

  • Yang kurang baik dari Timur → kurang disiplin, tidak menghargai waktu, dan kurang perencanaan.

Jadi, Islam mengajarkan berbaik sangka yang kritis (ḥusnuzh-zhann al-naqdī) — mengambil yang baik, menolak yang buruk.


🔹 Dalil Al-Qur’an: QS. al-Baqarah (2): 177

“Bukanlah kebajikan itu menghadapkan wajahmu ke timur dan barat,
tetapi kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari akhir, malaikat, kitab-kitab, dan para nabi,
serta memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, yatim, miskin, musafir, dan yang meminta-minta,
mendirikan shalat, menunaikan zakat, menepati janji, dan sabar dalam kesulitan.”

📌 Maknanya:
Kebaikan sejati tidak ditentukan oleh arah timur atau barat (simbol dua peradaban dunia),
tetapi oleh iman, amal saleh, dan akhlak.
Artinya, apa pun yang datang dari Timur atau Barat boleh diterima selama tidak bertentangan dengan nilai keimanan dan kemanusiaan.


📚 3. Daftar Prinsip-Prinsip Ajaran Islam yang Utama

Dalam penutup bab disebutkan sedikitnya ada 11 prinsip pokok ajaran Islam, yaitu:

NoPrinsipMakna dan Penjelasan
1Sesuai fitrah manusia (al-muṭābaqah li al-fiṭrah)Islam selaras dengan kebutuhan dasar manusia (jasmani & rohani).
2Keseimbangan (al-tawāzun)Menyeimbangkan dunia–akhirat, akal–nafsu, individu–masyarakat.
3Sesuai zaman dan tempat (ṣāliḥun li kulli zamān wa makān)Ajaran Islam fleksibel dan relevan di segala waktu dan tempat.
4Tidak menyulitkan manusia (lā tu‘assir ‘alā al-nās)Islam memberi kemudahan, bukan beban (misalnya rukhsah bagi yang sakit/musafir).
5Sesuai dengan perkembangan ilmu & teknologi (muṭābaqah li al-‘ilm wa al-tiknūlūjiyā)Islam mendorong kemajuan sains dan inovasi yang bermanfaat.
6Berbasis penelitian & bukti (muwaqqaf ‘alā al-tabayyūn)Semua tindakan harus berdasarkan ilmu dan klarifikasi (tabayyun).
7Berorientasi masa depan (muwajjihun li al-zamān al-ātiyān)Islam mengajarkan visi jauh ke depan, bukan nostalgia masa lalu.
8Kesederajatan (al-musāwah)Semua manusia sama di hadapan Allah; yang membedakan hanya takwa.
9Keadilan (al-‘adl)Memberi hak sesuai porsi, bersikap proporsional dan seimbang.
10Musyawarah (al-syūrā)Keputusan diambil bersama, tidak otoriter.
11Persaudaraan dan keterbukaan (al-ukhuwah wa al-iftitāḥiyyah)Menjalin ukhuwah dan bersikap terbuka terhadap ilmu serta budaya luar.

🌟 4. Inti dari Seluruh Prinsip: Akhlak Mulia

Semua prinsip Islam bermuara pada akhlak mulia (al-akhlāq al-karīmah).
Namun akhlak mulia di sini tidak hanya sopan santun, melainkan:

  • Moral dan etika dalam berpikir, bekerja, memimpin, berilmu, dan bermasyarakat.

  • Sikap tanggung jawab, disiplin, jujur, dan berkomitmen.

Dengan akhlak ini, Islam ingin membentuk manusia unggul (insān kāmil):

  • Berilmu dan beriman.

  • Seimbang antara pikir dan zikir.

  • Siap berkorban untuk kebenaran.

  • Menjadi rahmat bagi seluruh alam (raḥmatan lil-‘ālamīn).


🧭 5. Prinsip-Prinsip Islam Bersifat Tetap, Teknisnya Bisa Berubah

Isi bab juga menjelaskan bahwa:

  • Prinsip Islam (aqidah, ibadah, akhlak) bersifat tetap dan tidak berubah.

  • Tetapi cara penerapannya (teknis) bisa berubah sesuai zaman, seperti desain masjid, mode busana, sistem pendidikan, metode dakwah, teknologi, ekonomi, dan sebagainya — asalkan tidak melanggar prinsip dasar.

📌 Contoh:
Model pakaian bisa berbeda-beda, tapi tetap harus menutup aurat dan menjaga kesopanan.


🌍 6. Prinsip Islam Bersifat Universal

Prinsip-prinsip ajaran Islam tidak hanya berlaku bagi Muslim, tetapi juga untuk seluruh manusia.
Contohnya:

  • Keadilan dan kasih sayang berlaku untuk semua, termasuk non-Muslim.

  • Dengan begitu, Islam benar-benar menjadi rahmat bagi seluruh alam.


💬 7. Kenyataan: Umat Islam Belum Sepenuhnya Mengamalkannya

Sayangnya, penulis menegaskan bahwa banyak umat Islam belum memahami dan mengamalkan prinsip-prinsip ini secara utuh.
Akibatnya:

  • Masih banyak kemunduran dan ketertinggalan.

  • Banyak Muslim hanya memahami Islam secara parsial (sepenggal-sepenggal), tidak komprehensif.

Ironisnya, prinsip-prinsip Islam justru banyak diamalkan oleh orang Barat, seperti disiplin, jujur, menghargai waktu, dan kerja keras.

📖 Karena itulah Muhammad Abduh berkata:

“Aku melihat Islam (nilai-nilainya) di Eropa, tapi tidak melihat orang Islam.
Aku melihat orang Islam di negeri Muslim, tapi tidak melihat Islam (dipraktikkan).”


Komentar

Postingan populer dari blog ini

ILMU KALAM (THEOLOGY)

CATATAN KULIAH KAPITA SELEKTA PENDIDIKAN ISLAM

PEMAHAMAN KEAGAMAAN GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DKI JAKARTA